Informasi Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) Akademi Perikanan Yogyakarta

10 Mei 2009

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Akademi Perikanan Yogyakarta dibagi dalam dua gelombang. Gelombang I dilaksanakan pada tanggal 02 Maret – 31 Juli , sedangkan Gelombang II dilaksanakan pada tanggal 01 Agustus – 30 September . Pengumuman selengkapnya….. silahkan klik disini.

Ikan sebagai Indikator Pencemaran Air

1 April 2009

ikanPencemaran air menurut PP no 82 Tahun 2001 adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Sedangkan pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air. Pengendalian pencemaran air banyak dilakukan untuk mengurangi masuknya bahan pencemar hingga ke perairan sungai. Pengendalian pencemaran dapat dilakukan sesuai dengan jenis bahan pencemar yang ada. Adanya banyak pencemar dalam suatu perairan dapat dilihat dari beberapa kategori indikator seperti fisik, kimia dan biologis. Indikator fisik diantaranya adalah adanya warna, tumpukan material, bahan terlarut dan sebagainya. Indikator kimia diantaranya adalah adanya bau serta kandungan bahan-bahan berbahaya yang dapat diketahui melalui uji laboratorium. Indikator biologis meliputi biota yang hidup dalam perairan tersebut.

Ikan sebagai salah satu komponen penting penghuni perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran air. Adanya bahan pencemar dapat mempengaruhi kehidupan ikan yang dapat dilihat dari bentuk tubuh, adanya berbagai kelaian dalam tubuh ikan hingga kematian ikan (tidak terdapat ikan pada perairan yang tercemar berat). Berdasarkan kandungan bahan pencemar perairan, kematian ikan tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal tetapi dapat diakibatkan oleh beberapa faktor sekaligus. Kombinasi faktor pencemar yang meracuni ikan dapat dikategorikan dalam :

1. Fenomena sinergis, merupakan kombinasi dari dua zat atau lebih yang bersifat memperkuat daya racun. Adanya satu bahan pencemar tidak terlalu mematikan terhadap ikan, ketika muncul bahan pencemar lain maka gabungan kedua zat tersebut mempunyai toksisitas yang berlipat sehingga mengakibatkan kematian ikan.

2. Fenomena antagonis, merupakan kombinasi antara dua zat atau lebih yang saling menetralisir, sehingga zat-zat yang tadinya beracun berhasil dikurangi dinetralisir daya racunya sehingga tidak membahayakan.

Ikan dapat digunakan sebagai bioindikator karena mempunyai kemampuan merespon adanya bahan pencemar. Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu. Reaksi yang dimaksud antara lain adanya perubahan aktivitas pernafasan, aktivitas dan gerakan renang, warna tubuh ikan dan sebagainya. Kemampuan ikan merespon bahan pencemar sering digunakan dalam pengujian penanganan limbah industri. Limbah industri pada umumnya melewati beberapa tahapan pengolahan seperti penyaringan secara mekanis (secara fisik), pengendapan dan penjernihan dengan bahan kimia (secara kimia) serta penghilangan senyawa berbahaya dengan bakteri pengurai limbah (secara biologis) setelah melewati ketiga tahapan tersebut air limbah yang sudah diolah dilewatkan dalam kolam kecil berisi ikan. Apabila masih terdapat bahan pencemar maka ikan akan bereaksi mulai dari gerakan renang, percepatan gerakan operculum hingga kematian pada air yang masih beracun.

Bagaimana tanggapan anda?

Priadi Setyawan, S.Pi. M.Si

Bioremediasi untuk mempertahankan kualitas air

31 Maret 2009

bioremediasiBioremediasi merupakan suatu proses yang melibatkan mikroorganisme, fungi, tanaman hijau maupun enzim yang dihasilkannya untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang telah diubah oleh adanya kontaminan menjadi seperti kondisi sebelumnya. Kontaminan yang dimaksud adalah bahan pencemar atau limbah yang masuk ke dalam perairan. Teknik bioremediasi sering digunakan untuk menghilangkan tumpahan minyak pada suatu perairan dengan menggunakan bakteri khusus. Bakteri khusus tersebut dikenal juga dengan MEOR (microbial enhancement of oil recovery).

Pencemaran perairan terutama diakibatkan oleh pengelolaan sumber daya alam yang kurang bijaksana. Pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan saat ini di Indonesia lebih ditekankan pada aspek ekonomis bukan pengelolaan yang bertujuan untuk keberlanjutan sumberdaya alam (natural resources sustainability). Apabila dibiarkan dalam jangka panjang akan terjadi degradasi atau penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya dapat menimbulkan bencana ekologis.

Limbah sebagai bahan pencemar tersebut harus segera ditangani secara serius sebelum terjadi akumulasi yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Salah satu langkah konkret dan relatif mudah dilaksanakan untuk mengatasi pencemaran perairan adalah dengan pengelolaan secara biologis melalui pemanfaatan mikrobia sebagai pembersih bahan pencemar. Metode yang digunakan dalam bioremediasi adalah dengan menggunakan bakteri untuk mengumpulkan bahan pencemar dan mengambilnya dari lokasi tercemar. Menurut Battistelli (2004), metode bioremediasi yang dikembangkan saat ini adalah dengan melengkapi metode konvensional dengan cara menghancurkan bahan pencemar jika dimungkinkan atau paling tidak mentransformasi kedalam substansi yang tidak berbaya. Teknik ini secara umum relatif murah, menggunakan teknologi sederhana dan dapat lebih diterima publik. Bioremediasi telah menjadi alternatif yang baik dalam membersihkan bahan pencemar dan penggunaannya meningkat cepat di Amerika Serikat dan Eropa dengan berbagai tingkat kesuksesan (Rutkowska et al., 2004).

Teknik bioremediasi didasarkan pada kemampuan beberapa mikroorganisme untuk mengkatabolisme bahan-bahan kimia berbahaya. Salah satu bakteri yang populer dalam mengubah senyawa berbahaya menjadi tidak berbahaya adalah Pseudomonas sp. Dengan kemajuan teknologi rekayasa genetika dimungkinkan menghasilkan beberapa bakteri yang spesifik menangani limbah kimia tertentu sehingga tidak berdampak berbahaya bagi lingkungan.

Meskipun beberapa kasus pencemaran dapat ditangani dengan bioremediasi, namun upaya pencegahan tetap merupakan langkah terbaik. Pencegahan dilakukan dengan mencegah masuknya bahan pencemar kedalam perairan terutama bahan-bahan kimia berbahaya. Bahan kimia saat ini menjadi bahan pencemar utama di perairan sungai. Sungai merupakan satu-satunya prasarana paling mudah bagi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas, MCK, transportasi dan lainnya termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri. Dua aktivitas terakhir merupakan faktor utama terjadinya pencemaran logam berat dalam perairan.

Bagaimana tanggapan anda?

Priadi Setyawan, S.Pi M.Si

Jenis Logam Berat Berbahaya dalam Perairan

30 Maret 2009

logamberat

Kontaminasi logam berat pada lingkungan perairan merupakan masalah besar dunia saat ini. Persoalan spesifik logam berat di lingkungan terutama karena akumulasinya sampai pada rantai makanan dan keberadaannya di alam, serta meningkatnya sejumlah logam berat yang menyebabkan keracunan terhadap tanah, udara dan air meningkat. Proses industri dan urbanisasi memegang peranan penting terhadap peningkatan kontaminasi tersebut. Suatu organisme akan kronis apabila produk yang dikonsumsikan mengandung logam berat. Berikut ini penjelasan singkat menganai logam berat dan standar kesehatannya.

1. Antimony (Sb). Antimony dapat dijumpai secara alamiah di lingkungan dalam jumlah yang kecil, tetapi dengan adanya kegiatan industri elemen ini dapat dijumpai dalam jumlah cukup besar. Kuantitasnya di lingkungan adalah sebagai berikut; sebagai endapan rata-rata sebesar 0.03-0.31 ppb, endapan lumpur (Thames, UK) sebesar 1.3-12.7 ppm, pada air sungai (Thames, UK) levelnya berkisar 0.09-0.86 ppb, lima air sungai Jepang Sb dijumpai sebesar 0.07-0.29 ppb, air danau (Biwa, Jepang) berkisar 0.09-0.46 ppb, air laut (di perairan China) sebesar 0.8-0.9 ppb, perairan Jepang sebasar 0.18 ppb, tanah sebesar 4.3-7.9 ppm, rambut manusia berkisar 0.03-1.63 ppm, ambient partikel (didaerah industri Jepang) berkisar 58-1170 ppm. Sifat racun antimony setara dengan arsenik dan bismut. Seperti halnya arsenik, antimony bervalensi tiga lebih beracun dibandingkan dengan antimony bervalensi lima.

2. Arsenik (As). Arsenik diakui sebagai komponen essensial bagi sebagian hewan dan tumbuh-tumbuhan, namun demikian arsenik lebih populer dikenal sebagai raja racun dibandingkan kapasitasnya sebagai komponen essensial. Pada permukaan bumi, arsenik berada pada urutan ke-20 sebagai element yang berbahaya, ke-14 di lautan, dan unsur ke-12 berbahaya bagi manusia. Senyawa ini labil dalam bentuk oksida dan tingkat racunnya sama seperti yang dimiliki oleh beberapa elemen lainnya, sangat tergantung pada bentuk struktur kimianya. Tingkat toksisiti senyawa ini adalah arsines > arsenites (inorganik, trivalen) > arsenoxides (organik, trivalen) > arsenates (inorganik, pentavalen) > methylated arsenik. Senyawa methylated arsenik memiliki tingkat racun yang sangat rendah dibanding dengan senyawa arsenik lainnya. Tingkat racunnya adalah monomethylated arsenik (MMA) > dimethylated arsenik (DMA) > trimethylated arsenik (TMA) » 0. Arsenik dapat berikatan kuat dengan gugus thiol dan protein, menyebabkan penurunan kemampuan koordinasi penggerak, gangguan pada urat saraf, pernafasan, serta ginjal. Namun demikian, arsenik tidak menghambat system enzim. Proses alam seperti berbagai fluktuasi cuaca mengakibatkan batu-batuan dan gunung berapi memberikan kontribusi yang besar ke lingkungan. Disamping itu masuknya arsenik dalam jumlah besar ke lingkungan berasal dari sumber-sumber lainnya yang meliputi; pertambangan minyak, emas, dan batubara, pembangkit tenaga listrik, pestisida,keramik, peleburan logam dan pabrik-pabrik pupuk. Di beberapa negara Asia, kontaminasi arsenik telah tersebar secara luas seperti yang dilaporkan oleh team survey dari Asia Arsenic Network (AAN). Kontaminasi ini terus akan berkembang sejalan dengan meningkatnya usaha pengeksplorasian berbagai sumber alam di mana arsenik terdapat di dalamnya. Oleh karenanya beberapa negara, seperti Jepang dan Jerman pada tahun 1993 telah mengubah batas maksimum yang diizinkan untuk kandungan arsenic di perairan dari 0,05 menjadi 0.01 ppm, sedangkan bagi Indonesia dan negara Asia lainnya angka tersebut masih 0.05 ppm.

3. Kadmium (Cd). Kadmium merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena elemen ini beresiko tinggi terhadap pembuluh darah. Kadmium berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu panjang dan dapat terakumulasi pada tubuh khususnya hati dan ginjal. Secara prinsipil pada konsentrasi rendah berefek terhadap gangguan pada paru-paru, emphysema dan renal turbular disease yang kronis. Jumlah normal kadmium di tanah berada di bawah 1 ppm, tetapi angka tertinggi (1700 ppm) dijumpai pada permukaan sample tanah yang diambil di dekat pertambangan biji seng (Zn). Kadmium lebih mudah diakumulasi oleh tanaman dibandingkan dengan ion logam berat lainnya seperti timbal. Logam berat ini bergabung bersama timbal dan merkuri sebagai the big three heavy metal yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia.

4. Kromium (Cr). Kromium merupakan elemen berbahaya di permukaan bumi dan dijumpai dalam kondisi oksida antara Cr(II) sampai Cr(VI), tetapi hanya kromium bervalensi tiga dan enam memiliki kesamaan sifat biologinya. Kromium bervalensi tiga umumnya merupakan bentuk yang umum dijumpai di alam, dan dalam material biologis kromium selalu berbentuk tiga valensi, karena kromium enam valensi merupakan salah satu material organik pengoksida tinggi. Kromium tiga valensi memiliki sifat racun yang rendah dibanding dengan enam valensi. Pada bahan makanan dan tumbuhan mobilitas kromium relatif rendah dan kebanyakan berasal dari makanan, sedangkan konsumsinya dari air dan udara dalam level yang rendah.

5. Kobal (Co). Logam berat ini memiki tingkat racun yang tinggi terhadap tumbuhan. Kebanyakan tumbuhan memerlukan cairan elemen ini dalam konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm. Biasanya kobal yang terkandung di tanah diperkirakan sebesar 10 ppm, sebagai komponen esensial. Dosis kematian (LD50) bagi tikus sebesar 1.3×10-3 mol/kg.

6. Tembaga (Cu). Tembaga bersifat racun terhadap semua tumbuhan pada konsentrasi larutan di atas 0.1 ppm. Konsentrasi yang aman bagi air minum manusia tidak lebih dari 1 ppm. Bersifat racun bagi domba pada konsentrasi di atas 20 ppm. Konsentrasi normal komponen ini di tanah berkisar 20 ppm dengan tingkat mobilitas sangat lambat karena ikatan yang sangat kuat dengan material

7. Timbal (Pb). Timbal merupakan logam berat yang sangat beracun, dapat dideteksi secara praktis pada seluruh benda mati di lingkungan dan seluruh sistem biologis. Sumber utama timbal adalah berasal dari komponen gugus alkil timbal yang digunakan sebagai bahan aditif bensin. Komponen ini beracun terhadap seluruh aspek kehidupan. Timbal menunjukkan beracun pada sistem saraf, hemetologic, hemetotoxic dan mempengaruhi kerja ginjal. Konsumsi mingguan elemen ini yang direkomendasikan oleh WHO toleransinya bagi orang dewasa adalah 50 μg/kg berat badan dan untuk bayi atau anak-anak 25 μg/kg berat badan.

8. Merkuri (Hg). Keracunan merkuri pertama sekali dilaporkan terjadi di Minamata, Jepang pada tahun 1953. Kontaminasi serius juga pernah diukur di sungai Surabaya, Indonesia tahun 1996. Sebagai hasil dari kuatnya interaksi antara merkuri dan komponen tanah lainnya, penggantian bentuk merkuri dari satu bentuk ke bentuk lainnya selain gas biasanya sangat lambat. Proses methylisasi merkuri biasanya terjadi di alam di bawah kondisi terbatas, membentuk satu dari sekian banyak elemen berbahaya, karena dalam bentuk ini merkuri sangat mudah terakumulasi pada rantai makanan. Karena berbahaya, penggunaan fungisida alkylmerkuri dalam pembenihan tidak diizinkan di banyak negara.

9. Nikel (Ni). Elemen ini cenderung lebih beracun pada tumbuhan. Selama masih mudah di ambil oleh tanaman dari tanah, pembuangan limbah yang mengandung nikel masih sangat perlu diperhatikan. Total nikel yang terkandung dalam tanah berkisar 5-500 ppm. Konsentrasi pada air tanah biasanya berkisar 0,005-0,05 ppm, dan kandungan pada tumbuhan biasanya tidak lebih dari 1 ppm (kering).

10. Seng (Zn). Penggunaan elemen ini pada proses galvinasi besi sangat luas. Seng biasanya dijumpai pada tanah dengan level 10-300 ppm dengan perkiraan kasar rata-rata 30-50 ppm. Lumpur pembuangan biasanya mengandung seng dengan kadar tinggi. Elemen ini lebih bersifat aktif di tanah.

11. Stronsium (Sr). Stronsium bersifat isomorphously menggantikan peranan kalsium pada tulang dan bahkan lebih aktif dibandingkan dengan kalsium, serta dapat menyebabkan penyakit Urov (Osteoarthritis Deformans Endemica).

12. Selenium (Se). Selenium merupakan elemen essensial bagi hewan dan juga merupakan prioritas utama elemen pencemar yang dapat didegradasi pada sistem akuatik. Selenium masuk ke lingkungan secara alami sejalan dengan proses kegiatan manusia. Secara normal, selenium terdapat pada organisme perairan melalui proses perubahan cuaca secara alami. Selenium juga masuk ke perairan lingkungan melalui leaching fly-ash serta dari limbah produksi pembakaran batu-bara pada pembangkit-pembangkit tenaga listrik di mana selenium terkandung dalam level yang tinggi.

Pencemaran logam berat meskipun dalam konsentrasi rendah dalam perairan sangat berbahaya bagi biota didalamnya. Dampak logam berat sangat meracuni bagi manusia yang mengkonsumsi ikan dari perairan tercemar. Hal ini karena konsentrasi logam berat dalam ikan yang dikonsumsi sudah berada pada taraf diatas ambang batas akibat proses bioakumulasi.

Bagaimana tanggapan anda?

Priadi Setyawan, S.Pi M.Si

Kajian pustaka: Suhendrayatna, Institute for Science and Technology Studies (ISTECS)-Chapter Japan. From:http://wwwstd.ryu.titech.ac.jp/~indonesia/zoa/paper/html/papersuhendrayatna.html

Ikan Teluk Minamata Beracun dan Berbahaya

29 Maret 2009

minamata1

Ikan merupakan jenis bahan makanan yang bergizi tinggi. Kandungan gizi ikan sangat bagus terutama bagi ibu hamil dan menyusui serta anak-anak dalam masa pertumbuhan. Salah satu keunggulannya adalah adanya asam amino esensial yang mampu memberi nutrisi pada selubung mielin. Selubung mielin berperan penting dalam kecerdasan karena mampu mempercepat jalannya impuls dengan adanya loncatan impuls melewati nodus ranvier. Semakin tebal selubung mielin maka akan semakin cepat impuls dihantarkan menuju sinapsis untuk diteruskan menuju sel otak (neuron) lainnya.

Kebiasaan makan ikan pada masyarakat Jepang telah berdampak pada kecerdasan setiap anak yang lahir di Jepang. Konsumsi ikan juga berperan dalam meningkatkan ketahanan tubuh. Seperti diketahui bahwa konsumsi protein tinggi berperan dalam pertumbuhan, penggantian sel yang rusak serta dapat meningkatkan ketahanan tubuh.

Namun demikian, konsumsi ikan yang berasal dari Teluk Minamata pada tahun 1950an berakibat lain. Konsumsi ikan dan kerang dari perairan tersebut sangat beracun dan mematikan. Keracunan terjadi akibat ikan dan kerang yang dikonsumsi mengandung logam berat dalam konsentrasi diatas ambang batas. Logam berat yang dimaksud adalah merkuri atau air raksa (Hg). Merkuri dalam batas tertentu sangat berbahaya karena dapat mematikan sel neuron sehingga terjadi kelumpuhan syarat otak. Adanya kematian sel otak secara menyeluruh mengakibatkan koordinasi tubuh terganggu sehingga terjadi kelumpuhan total dan kematian.

Merkuri sangat berbahaya karena tidak dapat diuraikan serta sulit di buang kalau sudah masuk dalam jaringan tubuh. Konsentrasi merkuri yang sangat kecil dalam suatu perairan tetap berbahaya. Merkuri akan mengalami proses biomagnifikasi sehingga mencapai kadar yang mematikan di dalam ikan yang dikonsumsi. Biomagnifikasi merkuri merupakan proses penambahan kadar merkuri dalam jaringan tubuh hewan akibat proses pemangsaan. Merkuri pertama kali akan mengendap dalam plankton, ikan kecil yang memakan plankton-plankton akan mempunyai kadar merkuri yang lebih tinggi. Demikian juga ikan besar yang mengkonsumsi ikan kecil yang sudah mengandung tumpukan merkuri di dalam jaringan tubuhnya. Akibat paling besar adalah pada manusia yang mengkonsumsi ikan dengan kandungan merkuri konsentrasi tinggi.

Bagaimana tanggapan anda?

Priadi Setyawan, S.Pi. M.Si.

Pelatihan Budidaya Ikan bagi Karyawan Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta

27 Maret 2009

pelatihanbonbin

Sehubungan dengan adanya berbagai fasilitas perikanan terutama ikan hias di Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, maka diadakan pelatihan langsung dalam bidang budidaya perikanan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan. Kegiatan pelatihan telah dilaksanakan pada tanggal 2-7 Maret 2009.

Pelatihan tersebut bertujuan untuk memberikan bekal secara cepat dan menyeluruh berkaitan dengan budidaya perikanan baik untuk ikan hias maupun ikan konsumsi, sehingga diharapkan para karyawan Kebun Binatang Gembira Loka akan dapat mejalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Akademi Perikanaan Yogyakarta (APY) dipilih sebagai penyelenggara pelatihan karena berbagai keunggulannya. APY mempunyai latar belakang pendidikan perikanan yang lebih mengedepankan praktek atau penanganan secara langsung dengan dipadu unsur kewirausahaan. Disamping itu APY memiliki kemampuan yang baik dari segi pemateri yang berpengalaman serta didukung berbagai fasilitas kolam budidaya dan raiser yang dapat digunakan sebagai wahana pelatihan bagi karyawan Kebun Binatang Gembira Loka. Materi pelatihan yang diberikan meliputi: budidaya ikan hias dan ikan konsumsi dari tahap awal pembenihan ikan, proses pembesaran ikan, dan manajemen usaha serta pemasaran ikan.

Secara garis besar pelatihan ini memberikan beberapa manfaat, antara lain:

1. Memperoleh bekal teori dasar tentang dunia perikanan

2. Memperoleh bekal teori dasar tentang budidaya ikan hias dan ikan konsumsi

3. Memperoleh bekal ketrampilan teknis dalam identifikasi berbagai jenis ikan

4. Memperoleh bekal ketrampilan teknis dalam pengelolaan usaha budidaya, pembenihan dan pembesaran ikan

5. Memperolah pengetahuan teknis dalam pengelolaan kualitas air dan penanganan penyakit ikan

Pelatihan dilaksanakan selama lima hari berupa perpaduan antara pemaparan teori di kelas serta praktek dan pengamatan langsung di lapangan. Kegiatan pelatihan dipandu oleh pemateri :

1. Ir. Harits Noordin

2. Rr. Catur gunawanti, S.Pi. M.P.

3. Riski Tanjung S.Pi.

4. Priadi Setyawan, S.Pi, M.Si

5. Mujiat (Praktisi lapangan, pelaksana harian raiser APY)

Seluruh rangkaian pelatihan selama lima hari tersebut dirangkum dalam laporan kegiatan beserta modul pelatihan yang disediakan panitia penyelenggara. Modul pelatihan berisi berbagai hal yang disampaikan dalam kegiatan tatap muka di kelas sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan peserta setelah menyelesaikan pelatihan.

Priadi Setyawan, S.Pi. M.Si

Raiser Ikan Hias dan Konsumsi

27 Maret 2009

raiserRaiser ikan hias APY merupakan bagian dari Akademi Perikanan Yogyakarta yang dibangun di sebelah timur kampus. Letak raiser yang berdekatan dan berbatasan langsung dengan kampus dimaksudkan agar mahasiswa dapat melihat langsung aktivitas ekonomi yang terjadi di raiser. Disamping itu memudahkan mahasiswa untuk melakukan observasi, penelitian serta praktikum secara langsung di raiser. Pembangunan raiser bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa dalam bidang budidaya, kewirausahaan, maupun pemasaran ikan hias.

Dengan adanya raiser maka mahasiswa dapat belajar secara langsung mengenai penjualan ikan, penyeleksian/ grading, serta dapat menangkap permintaan langsung konsumen terhadap ikan hias yang berkualitas. Diharapkan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dan dibekali dengan pengetahuan dasar pada saat kuliah akan memantapkan pengetahuan tentang wirausaha perikanan serta berbagai hal penting berkaitan dengan ikan hias serta ikan konsumsi.

Raiser ikan hias dan ikan konsumsi menjadi salah satu fasilitas yang dimiliki Akademi Perikanan Yogyakarta disamping kolam indoor dan otdoor serta kolam-kolam pembesaran ikan. Berbagai fasilitas kolam penelitian serta kolam penjualan diperlukan untuk mencetak lulusan APY menjadi enterpreneur perikanan yang sukses serta mengerti betul berbagai hal berkaitan dengan dunai perikanan. Hal ini yang menjadi andalan serta keunggulan program D3 sehingga banyak diminati dunia kerja karena selama kuliah banyak melakukan praktek langsung dan penelitian sehingga lebih terampil dan unggul dalam hal teknis.

Aset yang dimiliki oleh raiser pembantu Akademi Perikanan Yogyakarta berupa kolam penampungan ikan hias pada lahan 1500 M2 dan kios-kios ikan hias dan konsumsi dengan rincian kolam:

1. Kolam ukuran 2 M x 2,5 M sebanyak 36 buah

2. Kolam ukuran 10 M x 10 M sebanyak 5 buah

3. Kolam ukuran 6 M x 6 M dengan rencana digunakan sebagai kolam show koi

4. Kolam ukuran 1 M x 2,5 M sebanyak 8 buah

5. Kios penjualan ikan hias dan ikan konsumsi ukuran 3 M x 6 M sebanyak 3 buah

6. Kios penjualan ikan hias dengan ukuran 3 M x 4 M sebanyak 9 buah

Raiser APY memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi perkembangan APY. Manfaat yang diperoleh antara lain:

1. Sebagai sarana penghubung APY dengan masyarakat melalui usaha perikanan

2. Sarana laboratorium kewirausahaan mahasiswa APY

3. Mahasiswa mempelajari grading/seleksi ikan hias dan penentuan harga ikan hias berdasarkan kualitas dan pemasarannya

4. Memberi kemudahan dan jaringan dalam membangun relasi dengan pihak lain


Priadi Setyawan, S.Pi. M.Si.

PGC sebagai Cikal Bakal Sel Gamet

25 Maret 2009

pgc1PGC adalah prekursor embrionik dari gamet. PGC muncul dari jaringan ekstra-gonadal dan melakukan migrasi melalui jaringan somatis menuju calon gonad, dimana PGC mengalami poliferasi dan diferensiasi menjadi sel-sel oogonia atau spermatogonia. Adanya ketidaknormalan pada proses perkembangan ini dapat menyebabkan kekurangan embrionik germ cells yang berakibat pada ketidaksuburan (infertilitas) pada individu dewasa. PGC merupakan sel-sel pembentuk gamet yang mampu memindahkan fenotip dari setiap individu termasuk semua cacatnya ke generasi berikutnya.

Pada awal perkembangan gonad tidak ada PGC yang terdapat pada gonad vertebrata. PGC kelinci dapat diidentifikasi sesaat dan selama awal tahap gastrulasi, di sekitar bagian proksimal dari epiblast, di dalam daerah ekstra gonadal dan ekstra embrionik, dekat dengan daerah kantung kuning telur di dasar allantois. Pada akhirnya PGC akan bermigrasi ke gonad untuk membentuk germ line di ovarium atau testis. Alkalin fosfatase digunakan sebagai penanda untuk PGC karena bisa menunjukkan reaksi positif pada tikus di jaringan embrio yang berbeda. Dengan menggunakan kriteria ukuran sel dan struktur elektron, titik awal PGC berada dapat dikenali. PGC pada teleostei dapat dikenali pada sekitar tahap somitogenesis. Beberapa peneliti sepakat bahwa pada tempat pertama kali PGC dikenali merupakan tempat asal pembentukan PGC. Meskipun demikian, tidak dapat diabaikan bahwa populasi kecil PGC telah ada pada sebelum tahap gastrulasi akhir dan bermigrasi menuju posisi dimana PGC dapat diidentifikasi baik secara morfologi maupun dengan eksprerimen tranplantasi embriologi.

Spesifikasi PGC pada zebrafish tergantung pada pewarisan plasma germinal dimana beberapa molekul RNA seperti nanos dan vasa berada. Vasa merupakan RNA helikase yang pada mulanya diidentifikasi pada Drosopila, merupakan homolog dan tampak seperti RNA atau protein pada garis keturunan germ cell dari semua organisme yang dipelajari hingga saat ini. Pada Zebrafish, transkrip vasa telah dapat dideteksi dengan hibridisasi in-situ di oosit serta dengan hibridisasi Northern dan sejumlah besar hibridisasi in-situ pada telur-telur yang baru saja mengalami fertilisasi.

Dengan analisis histokimia, keberadaan PGC dapat dikenali sehingga memudahkan dalam proses isolasi PGC. Pada organisme yang bereproduksi secara seksual, garis keturunan germ cell muncul dari PGC pada awal tahap embriogenesis. Kemajuan dalam bidang biologi sel dan biologi molekuler telah memungkinkan mengidentifikasi sel dengan menggunakan penanda molekuler. Pelabelan dengan menggunakan lebih dari satu warna dapat secara simultan ditampilkan secara in vivo termasuk ekspresi gen, pertukaran ion-ion, perubahan protein dan organel sel, kromosom serta proses lainnya.

Spesifikasi PGC pada ikan telah dipelajari dengan lebih jelas pada teleostei dengan observasi menggunakan mikroskop cahaya dan elektron. PGC telah dikenali dengan ukurannya yang besar dan mempunyai struktur seperti nuage dengan ciri khas padat elektron. Jika dibandingkan dengan sel-sel somatis, PGC berukuran lebih besar (10-20 µm) dengan ukuran inti yang besar juga (6-10 µm. Salah satu karakteristik dari PGC adalah adanya nuage. Kehadiran nuage dapat diketahui dengan analisis ultrastruktur PGC. Nuage merupakan agregasi dari RNA dan protein yang nampak seperti terpisah, inklusi sitoplasmik padat elektron dan sering diamati berasosiasi dengan mitokondria. PGC dapat diidentifikasi secara kimiawi dengan alkalin phosphatase seperti yang dilakukan pada tikus dan baru-baru ini dengan menggunakan RNA binding factor yaitu vasa pada lalat dan zebrafish. Marker molekuler pertama untuk PGC pada ikan adalah Vasa mRNA zebrafish yang diekspresikan dalam PGC dari beberapa spesies. Vasa pada awalnya diidentifikasi pada Drosophila sebagai gen maternal untuk formasi segmen-segmen abdominal dan untuk spesifikasi germ cell. Sama seperti beberapa organisme lain, vasa mRNA zebrafish disuplai secara maternal dan dideteksi di dalam PGC pada semua tahap perkembangan germ line.

PGC dapat digunakan sebagai sarana untuk mengintroduksi gen-gen asing, karena sel ini dapat menjadi dewasa mengikuti perkembangan generasi melalui gametogenesis dan fertilisasi. PGC akan berubah menjadi gamet yang bertanggungjawab terhadap perkembangan organisme baru pada generasi berikutnya.

Priadi Setyawan, S.Pi M.Si

Prosedur Analisis Histologis Jaringan Ikan

25 Maret 2009

mikrotom1Analisis histologis merupakan teknik pengamatan sel serta jaringan tubuh ikan yang sering digunakan. Analisis ini bertujuan untuk menghasilkan sediaan histologis yang dapat diwarnai dengan pewarna khusus sehingga dapat diamati secara langsung dengan menggunakan mikroskop cahaya. Tahapan analisis histologis pada ikan meliputi :

1. Pengambilan jaringan ikan. Pada sampel ikan yang masih kecil dapat langsung fiksasi tanpa dipotong. Pada ikan yang berukuran besar diambil jaringan tertentu yang akan diamati dan dimasukkan ke dalam larutan fiksasi.

2. Fiksasi. Larva atau ikan berukukan kecil difiksasi dengan larutan PFA 4% dalam medium Phosphate buffered saline (PBS). Sampel dimasukkan ke dalam botol yang sudah berisi larutan fiksatif dengan perbandingan antara sampel dengan larutan adalah 1:20. kemudian disimpan selama 24 jam dalam refrigerator. Setelah 24 jam kemudian sampel diambil dan dicuci dengan PBS selama 5 menit sebanyak 3 kali untuk menghilangkan sisa-sisa PFA sebelum ke tahap selanjutnya. Ikan yang berukuran relatif besar difiksasi dengan larutan Bouin’s selama 1 minggu dalam suhu kamar. Selanjutnya sampel dicuci dalam larutan alkohol 70% hingga warna kuning hilang, kemudian sampel disimpan dalam alkohol 70% hingga pemrosesan lebih lanjut. Sampel yang berukuran besar harus melaui prosedur dekalsifikasi dalam larutan 5 % trichloroacetid acid selama 24 jam untuk melunakkan struktur tulangnya.

3. Dehidrasi. Sampel yang sudah difiksasi kemudian dimasukkan berturut-turut ke dalam larutan sebagai berikut: Alkohol 70%, Alkohol 80%, Alkohol 90%, Alkohol Absolut I, Alkohol Absolut II, masing-masing selama 45 menit, kemudian dilanjutkan ke proses penjernihan.

4. Penjernihan (clearing). Sampel dari proses dehidrasi dimasukkan ke dalam larutan alkohol:xylol 1:1 dan 1:3 selama 30 menit. kemudian Xylol I dan Xylol II masing-masing selama 30 menit.

5. Infiltrasi. Sampel yang sudah dijernihkan dalam xylol diinfiltrasi secara bertahap dalam campuran xylol : paraffin 3:1 ; 1:1 dan 1:3 masing-masing selama 30 menit, dilanjutkan dengan paraffin murni sebanyak 2 x 60 menit. Seluruh rangkaian infiltrasi dilakukan dalam inkubator pada temperatur 58-60 0C.

6. Penanaman sampel (Embedding). Parafin dicairkan di dalam inkubator pada temperatur 60 0C. Cetakan berukuran 2 x 2 x 2 cm diisi dengan paraffin cair, bagian bawah cetakan didinginkan di atas blok es sehingga paraffin pada dasar cetakan agak memadat. Sampel diletakkan di atas paraffin yang agak memadat tersebut sesuai dengan orientasi irisan yang direncanakan, kemudian ditempelkan holder yang telah diberi label sesuai dengan kode sampel. Cetakan paraffin selanjutnya dibiarkan dalam temperatur ruang agar parafinnya memadat.

7. Pengirisan (Sectioning) dan peletakan pada gelas obyek. Water bath disiapkan dengan suhu 40-50 0C dan disiapkan wadah berisi air dingin. Kemudian blok yang sudah didinginkan dipasang di mikrotom yang sudah diatur pada ketebalan 4-7 μm. Putaran mikrotom dibuat konstan sampai blok yang berisi sampel jaringan teriris. Setelah itu irisan dipindahkan ke dalam baskom yang berisi air dingin, kemudian ditempelkan pada gelas obyek yang sudah dilapisi gelatin dan diberi kode sama dengan blok yang di iris. Selanjutnya dicelupkan ke dalam air hangat dalam water bath agar irisan mengembang. Kemudian ditiriskan untuk dilakukan pewarnaan.

Priadi Setyawan, S.Pi M.Si

Budidaya Ikan di Waduk atau Bendungan

24 Maret 2009

waduksermo Ikan konsumsi semakin hari semakin diminati masyarakat. Data dinas perikanan DIY menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat yang semakin meningkat setiap tahunnya. Berbagai kelebihan protein ikan serta kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan menjadi penyebab tingginya permintaan ikan konsumsi di pasaran. Ikan diketahui mempunyai kandungan asam amino lengkap, terdapat asam amino esensial yang tidak terdapat pada protein hewani lainnya, mampu mencegah aterosklerosis serta mampu mencerdaskan otak sehingga baik dikonsumsi oleh ibu yang menyusui serta anak-anak dalam masa perkembangan.

Meskipun demikian hingga saat ini produksi ikan konsumsi di beberapa daerah masih belum mampu mencukupi permintaan pasar. Permintaan ikan konsumsi yang besar ini dapat menjadi peluang usaha yang belum banyak disadari masyarakat. Banyak lahan yang sebenarnya dapat digunakan untuk usaha perikanan namun belum dimanfaatkan optimal. Waduk dan bendungan sebagai tempat penampungan air untuk irigasi termasuk perairan terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan. Salah satu cara memanfaatkan perairan terbuka untuk kepentingan budidaya ikan adalah dengan membuat budidaya ikan sistem karamba jaring apung (KJA). Biaya yang ditanamkan dalam budidaya ikan dengan metode ini terutama digunakan untuk pembuatan karamba jaring apung, penyediaan benih ikan serta pakan.

Sistem karamba memberikan keuntungan tersendiri karena biaya sewa penggunaan lahan bisa ditekan atau bahkan tidak perlu menyewa lahan, adanya perairan yang luas sehingga kadar amonia dalam perairan bisa ditekan serta tersedianya pakan alami. Amonia biasanya menjadi kendala dalam kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kesehatan ikan atau bahkan bisa mematikan. Kadar amonia yang tinggi umumnya terdapat pada kolam budidaya yang tidak mempunyai sirkulasi air yang baik atau kolam sistem tertutup. Kadar amonia yang tinggi tersebut dalam perairan bisa berasal dari limbah budidaya yang berupa kotoran ikan serta berasal dari sisa pakan yang tidak termakan. Sisa pakan akan mengendap di dasar perairan dan akan meracuni ikan budidaya. Namun untuk perairan yang luas (terbuka) limbah amonia yang dihasilkan akan segera tercampur dengan lingkungan sehingga kadarnya menurun atau tidak ada.

Budidaya ikan sistem KJA di waduk dan bendungan pada umumnya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat yang terlibat terutama masyarakat pedesaan disekitar lokasi. Namun demikian hingga saat ini pemanfaatan beberapa waduk dan bendungan dalam kegiatan budidaya ikan sistem KJA belum optimal. Ikan yang sering dibudidayakan pada perairan waduk atau bendungan adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Ikan nila dipilih karena termasuk jenis ikan ekonomis penting yang cukup disukai masyarakat, mudah dibudidayakan serta mempunyai harga jual yang relatif stabil. Persiapan usaha budidaya ikan sistem karamba jaring apung meliputi

a. Perhitungan ekonomi usaha budidaya karamba jaring apung (analisis usaha)

b. Desain karamba, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pembuatan karamba

c. Karakteristik kultivar yang mungkin di kembangkan pada sistem teknologi budidaya jaring apung.

d. Teknik pemberian dan dosis pakan

e. Teknik sampling dan pengukuran pertumbuhan ikan.

Pendampingan dan pelatihan budidaya diperlukan agar masyarakat di sekitar waduk atau bendungan mengetahui dan menguasai Sistem Budidaya Ikan sistem karamba jaring apung yang dapat digunakan sebagai alternatif mata pencaharian tambahan. Melalui kegiatan tersebut diharapkan masyarakat dapat memperoleh keuntungan ekonomi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa datang. Usaha budidaya KJA diharapkan dapat menjadi mata pencaharian alternatif dengan memanfaatkan potensi lokal yang selama ini belum dioptimalkan.

Priadi Setyawan, S.Pi M.Si


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.